Sabtu, 04 Mei 2013

Nama Dewa Dalam Pewayangan

Sanghyang Nurrasa (Nur Rahsa)

Setelah lama berkuasa di Kahyangan Malwadewa, Sanghyang Nurcahya yang telah dikarunia seorang putra dengan Dewi Nurrini (Dewi Mahamuni), selanjutnya menyerahkan tahta Malwadewa kepada putranya yang telah beranjak dewasa, Sanghyang Nurrasa.

Selain menyerahkan kahyangan Malwadewa, Sanghyang Nurcahya juga menyerahkan seluruh kesaktian pusakanya, antara lain Cupu Manik Astagina, Lata Maosadi (Pohon Rewan / Pohon Kehidupan, Oyod Mimang, Kalpataru), dan Sesotya Retna Dumillah. Selanjutnya Sanghyang Nurcahya menciptakan Pustaka Darya, yang adalah serat (kitab) yang menyatu dalam budi. Serat (kitab) tersebut berwujud suara tanpa sastra (tanpa tulis). Membacanya dengan "cipta sasmita" (kemampuan batin). Berisi kisah perjalanan Sang Hyang Nurcahya sendiri. Setelah menyerahkan semuanya kepada Sanghyang Nurrasa, Sanghyang Nurcahya meraga menjadi satu dengan Sanghyang Nurrasa.

Dalam kisahnya Sanghyang Nurrasa menikah dengan Dewi Sarwati putri Prabu Rawangin raja jin Pulau Darma yang tidak lain adalah kakeknya. Dari perkawinannya itu, mereka dikarunia beberapa anak yang terlahir "Sotan" (suara yang samar-samar tanpa wujud). Masing-masing hanya terdengar suaranya saja. Suara-suara itu bersahut-sahutan seperti berebut siapa yang lebih tua.

Sanghyang Nurrasa kemudian mengheningkan cipta, masuk ke alam gaib. Dengan kesaktiannya, ia bisa melihat wujud putra-putranya itu. Dua suara yang lebih besar berada di depan, dan yang satu bersuara kecil berada di belakang. Keduanya bisa terlihat setelah disiram dengan Tirtamarta Kamandalu. Sanghyang Nurrasa akhirnya menetapkan, bahwa yang di belakang lebih tua daripada yang di depan.

Putra bersuara kecil yang ada di belakang itu diberi nama Sanghyang Darmajaka, sementara dua putra yang bersuara besar yang ada di depan, kembar diberi nama Sanghyang Wenang dan Sanghyang Wening. Peristiwa tersebut diceritakan terjadi pada tahun 2900 Matahari, atau tahun 2989 Bulan.

Beberapa tahun kemudian, Dewi Sarwati melahirkan seorang putra lagi, kali ini berwujud 'akyan' (jasad halus). Putra ketiga tersebut diberi nama Sanghyang Taya.

Setelah putra-putranya dewasa, Sanghyang Nurrasa mewariskan semua ilmu kesaktiannya kepada mereka. Namun diantara mereka hanya Sanghyang Wenang yang paling berbakat sehingga terpilih sebagai ahli waris Kahyangan Malwadewa. Sanghyang Nurrasa kemudian turun takhta dan menyatu ke dalam diri Sanghyang Wenang.


Sanghyang Wenang


Sanghyang Wenang juga gemar bertapa dan olah rasa, sama seperti kakeknya dulu, Sanghyang Nurcahya. Segala macam tempat wingit ia datangi. Segala macam jenis tapa brata ia jalankan. Ia kemudian membangun istana yang melayang di udara, tepatnya di atas puncak Gunung Tunggal, sebuah gunung tertinggi di Pulau Malwadewa. Setelah 300 tahun bertakhta, ia akhirnya dipertuhankan oleh seluruh jin di pulau tersebut.

Pada saat itu hidup seorang raja bangsa manusia bernama Prabu Hari dari kerajaan Keling di Jambudwipa. Ia marah mendengar ulah Sanghyang Wenang yang mengaku Tuhan tersebut. Tanpa membawa pasukan ia datang menggempur Kahyangan Pulau Malwadewa seorang diri. Perang adu kesaktian pun terjadi. Dalam pertempuran itu Prabu Hari akhirnya mengakui keunggulan Sanghyang Wenang.

Prabu Hari kemudian mempersembahkan putrinya yang bernama Dewi Sahoti sebagai istri Sanghyang Wenang. Dari perkawinan itu lahir seorang putra berwujud akyan, yang diliputi cahaya merah, kuning, hitam, dan putih. Setelah dimandikan dengan Tirtamarta Kamandalu, keempat cahaya dalam tubuh bayi itu bersatu. Bayi tersebut kemudian menjadi sosok berbadan rohani yang memancarkan cahaya. Putra pertama Sanghyang Wenang itu diberi nama Sanghyang Tunggal. Peristiwa ini terjadi pada tahun 3500 Matahari.

Beberapa waktu kemudian Dewi Sahoti melahirkan bayi kembar dampit, laki-laki-perempuan, yang keduanya juga berwujud akyan, dengan diliputi cahaya. Keduanya kemudian dimandikan dengan Tirtamarta Kamandalu dan diberi nama oleh sang ayah. Yang laki-laki diberi nama Sanghyang Hening, sementara yang perempuan diberi nama Dewi Suyati.

Sementara itu, perjalanan kehidupan kakak kandung Sanghyang Wenang, yaitu Sanghyang Darmajaka telah menjadi raja di negeri Selong. Sanghyang Darmajaka mempunyai istri bernama Dewi Sikandi, putri Prabu Sikanda dari Kerajaan Selakandi. Kerajaan ini terletak di Tanah Srilanka.

Dari perkawinan tersebut Sanghyang Darmajaka mendapatkan lima orang anak, yaitu Dewi Darmani, Sanghyang Darmana, Sanghyang Triyarta, Sanghyang Caturkaneka, dan Sanghyang Pancaresi.

Sanghyang Darmajaka kemudian berbesan dengan Sanghyang Wenang, yaitu melalui pernikahan Dewi  Darmani dan Sanghyang Tunggal. Sanghyang Tunggal sendiri kemudian menjadi raja Keling, menggantikan sang kakek, Prabu Hari.

gbr pengganti dewi
 
Rekatawati, Dewi (Rakti, Wirandi)

DEWI REKATAWATI dikenal pula dengan nama Dewi Rakti atau Dewi Wirandi. Ia adalah putri Prabu Yuyut/Resi Rekatama, berwujud ketam/yuyu, raja negara Samodralaya. Oleh Sanghyang Wenang, Dewi Rekatawati dinikahkan dengan Sanghyang Tunggal putra Sanghyang Wenang dengan Dewi Sahoti.

Karena Sanghyang Tunggal berwujud “akyan” (makluk halus) maka yang lahir dari kandungannya berwujud sebutir telur, terbang melayang-layang yang setelah ditangkap oleh Sanghyang Tunggal pecah berubah wujud menjadi tiga orang anak kembar. Sama-sama tampan, cakap dan memancarkan cahaya keagungan. Oleh Sanghyang Tunggal ketiga putranya tersebut masing-masing diberi nama : Sanghyang Tejamaya/ Antaga (terjadi dari kulit telur), Sanghyang Ismaya (terjadi dari putih telur) dan Sanghyang Manikmaya (terjadi dari kuning telur). Karena berwujud badan rokhani, hidup Dewi Rekatawati bersifat abadi. Ia bersemayam di kahyangan Alangalangkumitir.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar